Dua hari ini saya mengalami dua hal yang aneh dalam benak saya, yakni betapa pentingnya sebuah kejujuran dalam pekerjaan, apapun itu jenis pekerjaannya. karena hakikatnya kita bekerja didunia ini adalah bentuk lain ibadah kita kepada Allah Tuhan Semesta Alam, dalam rangka upaya mencari rizki Nya yang halal dan berkah tentunya. sehingga setiap gerak kita dalam bekerja dinilai Allah SWT sebagai amal yang tentu akan mendapat balasan berupa rezeki dan pahala disisiNya.
Apabila kita memandang pekerjaan kita adalah ibadah maka dalam bekerjapun kita tetap memegang prinsip mana yang boleh dan mana yang tidak dalam pandangan Allah, terutama kejujuran dalam bekerja adalah hal yang sangat prinsip yang harus dipegang tegus siapapun dan dimanapun di dunia pekerjaan.
Namun amat disayangkan dua hari terakhir ini saya mengalami keganjalan dalam hal kejujuran di dunia pekerjaan, yang pertama adalah ketika saya mengantar ponakan berobat ke rumah sakit negeri di kota malang, kejadian ini ketika saya ingin membayar obat di apotik, ketika saya tanya beraba harga obat yang harus ditebus, sayang pelayan apotik menjawab 100 ribu, saat itu spontan saya membayar 100 ribu lalu meminta kwitansi pembayaran, namun apa balasan dari pelayan tersebut "Maaf komputernya lagi rusak" tanpa sengaja saya berucap "ya sudah buat kwitansi tulis tangan saja". namun ternyata yang dilakukan petugas tersebut bukan menulis malah mengetik komputer, dan tidak lama kemudian keluarlah kwitansi resmi dari printer yang sudah terkoneksi dengan software dikomputer. sang petugas lalu menyerahkan kwitansi resmi sejumlah 78 rb dan uang kembalian 22 rb tanpa rasa malu dan permohonan maaf. saya saat itu terkejut dalam hati tapi tidak bergumam karena menghindari keributan lalu bergegas pergi. Peristiwa pertama ini saya menjadi tidak habis pikir, ok dari sisi jumlah uang tidak seberapa hanya 20 rb saja, tapi yang menjadi kekhawatiran saya ini adalah tempat pelayanan publik bagaimana kalau itu dilakukan oleh petugas setiap hari dan dilakukan kepada banyak orang, bayangkan betapa besarnya penipuan yang telah dilakukannya dna betapa banyaknya orang yang telah dirugikan dengan perilaku petugas publik ini akibat ketidak jujurannya dalam bekerja, dan berapa besar dosa yang telah dia tanggung akibat perbuatannya, Allahualam.
Peristiwa kedua terjadi sehari sesudahnya, kebetulan dirumah saya lagi ada pekerjaan pemasangan kanopy dari bahan baja ringan yang dikerjakan oleh tukang langganan saya, setelah pekerjaan selesai, kepada tukang sudah saya bayarkan semua hak-haknya, namun diakhir pekerjaan si tukang meminta tambahan biaya karena ada tambahan pembelian baut, sayapun tidak keberatan karena memang ada penambahan baut yang kurang, namun yang menjadi keprihatinan saya adalah ketika tukang tersebut menyerahkan kuitansi toko yang sudah di ubahnya sendiri alias di "mark up" dan bukan harga sewajarnya, namun karena ketidakjelian saya saya penuhi permintaannya. Tidak lama kemudian saya perhatikan nota tersebut telah diubah dengan tambahan coretan oleh tukang sendiri dan setelah saya amati perkalian antara jumlah dan harga satuannyapun jelas terlihat berbeda. singkatnya saya telah ditipu dan dibohongi oleh tukang langganan saya sendiri, seandainya dia ingin meminta tambahan lebih baik terus terang terbuka, tentu saya juga akan penuhi sepanjang wajar. Kalau boleh jujur penilaian saya tukang langganan ini tergolong sangat rapi dan sangat rajin sekali, namun sangat disayangkan kerapian dan kerajinannya tidak dibaluti dengan nilai nilai kejujuran yang sebenarnya lebih utama bagi saya seorang pelaku bisnis. karena hal seperti ini cepat atau lambat akan merongrong perusahaan dan membuat perusahaan menjadi hancur.
Dari dua peristiwa diatas, tergambar jelas bahwa disekitar kita setiap harinya dalam dunia pekerjaan betapa banyak terjadi ketidak jujuran, hal ini disebabkan pandangan kita yang salah terhadap pekerjaan yakni mencari rejeki sebanyak-banyaknya. padahal ada yang lebih utama dari hanya sekedar mencari rezeki saja yakni kita menganggap bahwa apapun pekerjaan yang kita lakukan sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kita kepada Allah, sedangkan rezeki adalah imbalan dari Allah terhadap apa yang kita kerjakan, terkait besar kecilnya rezeki kita tergantung Allah yang menentukan dibantu besarnya doa dan ikhtiar kita. Cerita ini ditulis semoga memberi pelajaran berharga baik bagi penulis maupun yang membaca agar kita luruskan niat kita dalam bekerja yakni sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada ALlah SWT, dan kita senantiasa waspada dengan apapun yang ada kaitan pekerjaan dengan kita untuk lebih teliti agar tidak menjadi sasaran penipuan serta mendoakan saudara saudara kita yang masih banyak menipu dalam bekerja agar diberi hidayah dan kesadaran oleh Allah SWT, Amin
Peristiwa kedua terjadi sehari sesudahnya, kebetulan dirumah saya lagi ada pekerjaan pemasangan kanopy dari bahan baja ringan yang dikerjakan oleh tukang langganan saya, setelah pekerjaan selesai, kepada tukang sudah saya bayarkan semua hak-haknya, namun diakhir pekerjaan si tukang meminta tambahan biaya karena ada tambahan pembelian baut, sayapun tidak keberatan karena memang ada penambahan baut yang kurang, namun yang menjadi keprihatinan saya adalah ketika tukang tersebut menyerahkan kuitansi toko yang sudah di ubahnya sendiri alias di "mark up" dan bukan harga sewajarnya, namun karena ketidakjelian saya saya penuhi permintaannya. Tidak lama kemudian saya perhatikan nota tersebut telah diubah dengan tambahan coretan oleh tukang sendiri dan setelah saya amati perkalian antara jumlah dan harga satuannyapun jelas terlihat berbeda. singkatnya saya telah ditipu dan dibohongi oleh tukang langganan saya sendiri, seandainya dia ingin meminta tambahan lebih baik terus terang terbuka, tentu saya juga akan penuhi sepanjang wajar. Kalau boleh jujur penilaian saya tukang langganan ini tergolong sangat rapi dan sangat rajin sekali, namun sangat disayangkan kerapian dan kerajinannya tidak dibaluti dengan nilai nilai kejujuran yang sebenarnya lebih utama bagi saya seorang pelaku bisnis. karena hal seperti ini cepat atau lambat akan merongrong perusahaan dan membuat perusahaan menjadi hancur.
Dari dua peristiwa diatas, tergambar jelas bahwa disekitar kita setiap harinya dalam dunia pekerjaan betapa banyak terjadi ketidak jujuran, hal ini disebabkan pandangan kita yang salah terhadap pekerjaan yakni mencari rejeki sebanyak-banyaknya. padahal ada yang lebih utama dari hanya sekedar mencari rezeki saja yakni kita menganggap bahwa apapun pekerjaan yang kita lakukan sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kita kepada Allah, sedangkan rezeki adalah imbalan dari Allah terhadap apa yang kita kerjakan, terkait besar kecilnya rezeki kita tergantung Allah yang menentukan dibantu besarnya doa dan ikhtiar kita. Cerita ini ditulis semoga memberi pelajaran berharga baik bagi penulis maupun yang membaca agar kita luruskan niat kita dalam bekerja yakni sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada ALlah SWT, dan kita senantiasa waspada dengan apapun yang ada kaitan pekerjaan dengan kita untuk lebih teliti agar tidak menjadi sasaran penipuan serta mendoakan saudara saudara kita yang masih banyak menipu dalam bekerja agar diberi hidayah dan kesadaran oleh Allah SWT, Amin